Moms, pernah merasa bingung melihat berat badan Si Kecil? Ada kalanya Moms merasa bayi terlihat lebih kecil atau lebih kurus dibanding bayi seusianya, sehingga mulai khawatir apakah kenaikan berat badan bayi sudah sesuai. Padahal, ukuran “ideal” tidak bisa ditentukan hanya dari tampilan atau dibandingkan dengan bayi lain. Dokter biasanya menilai pertumbuhan melalui kurva pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin, termasuk berat badan menurut usia serta berat badan menurut panjang badan. Yang terpenting bukan sekadar berada di angka tertentu, tetapi bagaimana tren kenaikan berat badan bayi dari waktu ke waktu.
Sebagai gambaran umum, berat badan bayi biasanya meningkat pesat pada tahun pertama. Banyak bayi mencapai sekitar dua kali berat lahir pada usia 6 bulan dan sekitar tiga kali berat lahir saat berusia 1 tahun, meski setiap bayi tentu bisa memiliki pola pertumbuhan yang berbeda. Jadi, sebelum buru-buru mencari cara untuk mempercepat kenaikan berat badan bayi, sebaiknya Moms melihat catatan pertumbuhan Si Kecil dan mendiskusikannya dengan dokter anak bila ada kekhawatiran.
Nah, dari sinilah kadang muncul anggapan bahwa menambahkan gula ke makanan bayi bisa menjadi jalan pintas untuk membantu kenaikan berat badan bayi. Gula memang dapat memberikan energi, tetapi apakah itu berarti gula tambahan dibutuhkan bayi? Yuk, Moms, kita bedah faktanya.
Gula untuk Bayi? Perlu atau Waspadai Tantrum?
Tubuh memang menggunakan glukosa sebagai salah satu sumber energi. Saat kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi glukosa yang kemudian digunakan sel sebagai bahan bakar untuk mendukung kerja otak, otot, dan organ tubuh. Namun, kebutuhan energi Si Kecil tidak berarti harus dipenuhi dengan menambahkan gula ke makanannya demi mendukung kenaikan berat badan bayi.
Pada bayi, terutama sebelum usia 6 bulan, ASI atau susu formula merupakan sumber nutrisi utama sesuai kebutuhannya. Setelah sekitar usia 6 bulan, kebutuhan energi dan nutrisi mulai meningkat sehingga MPASI diberikan sebagai pendamping ASI atau susu formula. WHO juga merekomendasikan agar gula tidak ditambahkan ke makanan pendamping bayi dan anak kecil.
Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa gula membuat Si Kecil “kecanduan” dan mudah tantrum? Bagian ini perlu diluruskan, Moms. Belum tepat jika setiap bayi yang rewel setelah mengonsumsi makanan manis langsung dianggap mengalami kecanduan gula. Bahkan pada bayi, rewel atau menangis jauh lebih sering berkaitan dengan rasa lapar, mengantuk, tidak nyaman, popok basah, tumbuh gigi, atau kebutuhan lainnya. Jadi, jangan menjadikan gula sebagai cara untuk mengejar kenaikan berat badan bayi sekaligus jangan langsung menyalahkan gula setiap kali Si Kecil rewel.
Meski begitu, membatasi gula tambahan tetap penting karena bayi sebenarnya tidak membutuhkannya. Makanan manis juga dapat membuat Si Kecil lebih terbiasa dengan rasa manis sehingga pilihan makanan bergizi dengan rasa alami bisa terasa kurang menarik. Untuk mendukung kenaikan berat badan bayi, jauh lebih baik membangun pola makan dengan makanan padat nutrisi daripada mengandalkan gula sebagai sumber kalori.
Beberapa alasan mengapa Moms sebaiknya tidak menjadikan gula tambahan sebagai strategi untuk kenaikan berat badan bayi antara lain:
- Energi cepat, tetapi bukan nutrisi lengkap. Gula dapat menyumbang energi, tetapi tidak memberikan protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan kenaikan berat badan bayi.
- Bayi perlu mengenal berbagai rasa alami. MPASI sebaiknya memperkenalkan Si Kecil pada berbagai makanan bergizi, termasuk sayur, buah, sumber protein hewani, dan sumber lemak.
- Tantrum tidak sesederhana “kebanyakan gula”. Jika Si Kecil rewel setelah makan, Moms sebaiknya melihat keseluruhan kondisi dan pola makannya, bukan langsung menyimpulkan bahwa gula adalah penyebabnya.
- Gula tambahan memang tidak diperlukan. WHO menganjurkan agar gula tidak ditambahkan ke makanan pendamping bayi dan anak usia dini.
Jadi, kalau tujuan Moms adalah mendukung kenaikan berat badan bayi, jangan tergoda menambahkan gula ke bubur, puree, atau makanan Si Kecil hanya supaya kalorinya bertambah. Ada cara yang lebih aman dan bernutrisi untuk membantu pertumbuhan Si Kecil.
Cara Menambah Berat Badan Bayi Tanpa Gula
Mendukung kenaikan berat badan bayi sebaiknya dilakukan dengan melihat usia, kebutuhan nutrisi, pola minum atau makan, serta kondisi kesehatan Si Kecil secara keseluruhan. Bukan sekadar membuat porsi makan menjadi lebih banyak, Moms, tetapi memastikan setiap asupan memberikan nutrisi yang memang dibutuhkan tubuhnya.
Untuk Bayi di Bawah 6 Bulan
Jika Si Kecil masih mendapatkan ASI eksklusif, fokus utama untuk mendukung kenaikan berat badan bayi adalah memastikan kebutuhan ASI terpenuhi.
- Susui sesuai kebutuhan Si Kecil. Berikan ASI saat bayi menunjukkan tanda lapar dan pastikan proses menyusu berlangsung efektif. Perlekatan yang baik juga membantu bayi mendapatkan ASI dengan optimal.
- Perhatikan tanda kecukupan asupan. Jumlah popok basah, kondisi bayi, serta perkembangan berat badan dapat menjadi bagian dari penilaian apakah asupan sudah mencukupi.
Untuk Moms yang memberikan susu formula, pastikan susu dibuat sesuai petunjuk pada kemasan dan tidak menambahkan bubuk lebih banyak dari takaran dengan tujuan mempercepat kenaikan berat badan bayi. Konsentrasi susu yang terlalu pekat justru dapat berisiko bagi Si Kecil.
Untuk Bayi Usia 6 Bulan ke Atas
Memasuki usia sekitar 6 bulan, MPASI mulai diberikan untuk melengkapi ASI atau susu formula. WHO merekomendasikan makanan yang beragam, aman, dan padat nutrisi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi serta nutrisi Si Kecil.
- Pilih makanan padat energi dan kaya nutrisi. Lemak sehat seperti alpukat atau minyak yang sesuai untuk MPASI dapat membantu menambah energi dalam porsi yang tetap sesuai kapasitas perut bayi.
- Utamakan protein hewani. Telur, ikan, ayam, dan daging dapat menjadi pilihan sumber protein serta berbagai zat gizi yang mendukung pertumbuhan dan kenaikan berat badan bayi.
- Berikan sumber karbohidrat. Nasi, kentang, ubi, dan sumber karbohidrat lain dapat melengkapi kebutuhan energi Si Kecil.
- Tawarkan makanan dengan tekstur sesuai usia. Seiring bertambahnya usia, tekstur dan variasi makanan dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan makan Si Kecil.
- Ciptakan suasana makan yang nyaman. Kurangi televisi, ponsel, atau gangguan lain agar Si Kecil bisa belajar mengenali rasa lapar dan kenyang serta menikmati waktu makannya.
- Jangan mengejar angka timbangan dengan paksa. Target kenaikan berat badan bayi sebaiknya mengikuti evaluasi kurva pertumbuhan, bukan sekadar membuat berat badan naik secepat mungkin.
Selain makanan, jangan lupa bahwa pertumbuhan Si Kecil juga membutuhkan istirahat yang cukup dan pemantauan kesehatan secara rutin. Jika Moms merasa kenaikan berat badan bayi melambat, tidak bertambah, atau justru menurun, jangan mencoba berbagai cara sendiri terlalu lama. Dokter anak dapat membantu mengevaluasi pola pertumbuhan, asupan, kondisi kesehatan, dan kemungkinan penyebab lainnya.
Moms sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika kenaikan berat badan bayi sangat lambat, berat badan tidak bertambah, atau justru mengalami penurunan. Pemeriksaan penting dilakukan karena berat badan yang sulit naik tidak selalu disebabkan oleh kurang makan,; ada berbagai faktor nutrisi maupun kondisi kesehatan yang perlu dipertimbangkan.
Daripada mencoba menambahkan gula untuk mengejar kenaikan berat badan bayi, lebih baik cari tahu penyebabnya bersama tenaga kesehatan. Dengan begitu, Moms bisa mendapatkan rekomendasi yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kebutuhan Si Kecil.
Selain memastikan asupan dan memantau kenaikan berat badan bayi, kenyamanan sehari-hari Si Kecil juga tidak kalah penting, Moms. Popok akan bersentuhan langsung dengan kulit bayi selama berjam-jam, sehingga memilih popok yang lembut, mampu menyerap dengan baik, dan membantu menjaga kulit tetap nyaman bisa menjadi bagian dari persiapan Moms merawat Si Kecil.
Salah satu pilihan yang bisa Moms pertimbangkan adalah popok Merries Skin Protection. Popok ini memiliki lapisan antibakteri dengan ekstrak daun teh dan teknologi +Anti Bau, yang dirancang untuk membantu mencegah bau dan bakteri setelah popok terisi. Popok ini juga dilengkapi jalur serap untuk membantu menyerap cairan dengan banyak dan cepat, serta dapat mengunci pipis agar permukaan popok tetap kering.
Merries Skin Protection juga mengutamakan kenyamanan kulit Si Kecil. Popok ini dilengkapi sirkulasi udara di seluruh bagian popok, sehingga kulit bayi tetap bisa bernapas dan nyaman digunakan. Ada pula karet pinggang yang lembut dan elastis yang dirancang agar tidak meninggalkan bekas merah pada kulit. Dapatkan segera di e-commerce berikut.